Taraka Napak Archapadha

actually i don't know why i wrote "Taraka Napak Archapadha" as the title of my blog. Taraka is my son's name, it comes from "Java Kawi" language, it means star. Star is always be there in the sky that's why i put this title on the top of my blog. Writing is just like hanging my dream above the sky, as the way we try to reach the star. If you believe the power of your dream, dream will come true.. every letter that i write is every second i make a dream... and i believe, someday i will :)
Showing posts with label memories of pregnancy moment. Show all posts
Showing posts with label memories of pregnancy moment. Show all posts

Tuesday, July 10, 2012

Menantimu..

coretan ini aku tulis tanggal 20 Februari 2011 kala malam siap mengganti petang, esoknya aku melahirkanmu. Dan aku selalu mengenalkan kata "bunda" untuk berkomunikasi denganmu, eh setelah lahir di usia kamu yang baru 3 bulan selalu nyeloteh gege ketika melihatku, hehe...


15 feb 2011

Ayah mengantar bunda periksa ke bidan. Setiba di sana seperti biasa bunda menimbang berat badan. Wah beratnya nambah lagi. Tahukah kamu, baru kali ini bunda seberat ini, xixixi. Dan ibu hamil memang wajar mengalami kenaikan berat badan. Berat itu bukan hanya berasal dari kamu saja, tapi juga cairan ketuban, kelenjar payudara, plasenta, dll, bunda tidak bisa mengingat semuanya. Bu bidan juga bercerita kemarin ada pasien yg melahirkan. Padahal prediksinya tanggal 26, tapi maju dari prediksi. Katanya kecapaian karena ibu itu punya dua anak balita yg mesti diurus. Bintang, kata bidan posisi kamu udah mapan banget. Bunda jg disarankan untuk mengurangi porsi nasi karena berat kamu udah mencapai 3kg. Jangan ampe kegedhean. Kamu tahu sendiri kan? Teman kamu yg rumahnya sebelahan ama rumah kakek nenekmu terlahir dengan berat 4,2 kg. Kamu nggak mau kan lahir seberat itu? Kasihan bundamu juga. Apalagi ini pengalaman pertama bunda. Bunda harap kamu mau bekerjasama nanti.. Agar proses melahirkanmu lancar. Oya Bintang, ayahmu sempat meledek bunda waktu menimbang berat badan. 'Wah udah berat banget'. Bunda bilang, 'iya nie, rekor seumur2 baru kali berat badan naek drastis. Ntar abis melahirkan bisa balik ke berat semula nggak ya?''
Bu bidan pun tersenyum,''tenang aja ntar juga balik lg. Mba hes kan tinggi, wajar kalau beratnya naek ampe segitu. Namanya juga lagi hamil.''
Bunda sebenarnya nggak begitu peduli dengan perubahan fisik bunda saat sebelum dan sesudah menjadi ibu. Yang penting kamu sehat. Cuma kalau kita pingin sehat, paling nggak berat badan mesti disesuaikan dengan tinggi badan. Yang penting mah kamu nanti lahir dengan sehat, selamat, semoga nanti bunda juga bisa memberi ASI exlusif untukmu.

17 feb 2011

Bintang, pagi itu sebelum bunda pergi jalan2 pagi dengan ayah, bunda sempat menengok temanmu yg udah lahir mendahului kamu. Melihat kelucuannya, bunda jadi pengen cepet2 kamu lahir. Rasanya tak sabar ingin menggendongmu dan meninabobokan kamu.
Waktu bunda dan ayah jalan2, orang2 berkomentar,''kraen udah lahiran. Yang laen udah pada lahir..''
Bunda yakin, kalo waktu itu tiba, kamu pasti lahir juga. Mesti banyak2 berdoa dan harus aktif juga Bintang, misal jalan2 pagi dan sore, ngepel, tapi jangan kecapaian juga.

19 feb 2010

Pagi itu Bunda ke warung membeli sayur dan mendoan. Ibu2 yg sedang belanja pun mengamati perut bunda. ''ini kayaknya bentar lagi..''. Bahkan ada yg bilang gini,''ntar yg tenang ya kalo ngadepin persalinan. Jangan nangis. Jangan teriak2 manggil ibu.. Ibu..''
Sepulang dari warung ayahmu berkata seperti ini,''wah kayakna tetangga2mu udah hafal karaktermu yang lengket n manja ama ibu ya?''
Bunda memang dekat banget ama nenekmu Bintang. Bunda harap nanti kamu juga dekat dengan bunda, tapi jangan manja ya, hehe.

20 feb 2011

Pagi tadi ayah dan bunda mencuci popok, gurita, kain terpal, dan sarung bantal yg dibelikan nenekmu kemarin. Sebelum mencuci, ayah dan bunda menyempatkan diri untuk jalan2 pagi. Sepulang jalan2, bunda sempat merasa pegal di sekitar perut. Bunda dan ayah juga menyadari sepertinya perut bunda turun ke bawah beberapa senti. Semoga saja itu adalah tanda2 hari persalinan segera tiba. Menurut prediksi, bunda akan melahirkanmu tanggal 23 besok. Hmm waktunya makin dekat ya.. Yang laen kebanyakan maju ampe 2 minggu. Kalo kelahiranmu, bunda nggak tahu ini apa lebih awal dari tanggal 23 atau mundur. Semoga saja semua berjalan lancar ya nak.. Bikin note-nya udah dulu ya. Perut bunda kerasa nggak enak and agak mules kayak mau datang bulan. Kita sholat dulu yuk nak, adzan Maghrib telah berkumandang.

Monday, July 9, 2012

Melahirkan itu Menakjubkan

Dalam kehidupan ini selalu ada dua hal yg bertentangan. Kaya-miskin, tua-muda, kecil-besar, kelahiran-kematian. Berbicara mengenai kelahiran, tgl 21 kemarin aku sudah merasakan sendiri nikmatnya melahirkan itu. Sampai kapanpun aku nggak akan bisa melupakan moment bersejarah itu. Karena itu sepenggal coretan ini akan ku jadikan pengingat kenangan akan suatu masa ketika aku melahirkan anak pertamaku. Bunda dan ayah yuk kita bernostalgia lagi kembali ke masa kelahiran anak pertama. Buat yg blm jadi ayah dan bunda pun nggak dilarang membaca sharingku, hehe..

20 feb 2011

Sebelumnya kita flash back dulu ya ke masa satu hari sebelum melahirkan. Pagi itu seperti biasa aku dan suami jalan2 pagi mengelilingi kompleks. Sepanjang jalan aku dan suami sesekali memandangi perutku yg turun ke bawah beberapa senti. Apakah sebentar lagi aku akan melahirkan? Bu bidan memprediksi kelahiran buah hatiku jatuh pd tgl 23 feb bsk, waktunya semakin dekat. Sepulang jalan2, aku dan suami sempat mencuci popok dan kain terpal bersama. Siangnya pukul 14.00 wib, aku sempat meminta suami untuk mengantarku ke rumah saudara yg baru saja membuka usaha depot air, warnet, dan jual gas. Rasanya pengen refreshing mencari artikel tentang persalinan.

Menjelang Maghrib kurasakan pegal di sekitar perut, terutama bagian bawah perut. Aku anggap ini pegal biasa seperti yg sudah2. Bada' Isya rasa pegal itu bercampur mulas dan melilit seperti orang sakit perut. Aku pun bertanya-tanya dlm hati, mulas yg aku rasakan apakah tanda2 aku akan segera melahirkan atau hanya mulas sakit perut. Semalaman aku nggak bisa tidur. Suami pun ikut begadang menemaniku. Sesekali suami mengusap perutku dengan minyak kayu putih. Suami pun heran, biasanya kalau pegal2 hanya sebentar saja, tapi ini semalaman. Aku ragu kalau mulas yg aku rasakan adalah tanda2 akan melahirkan, karena aku belum mengeluarkan lendir bercampur darah.

21 feb 2011

Pukul 02.00 dini hari aku melangkah menuju kamar ibuku. Kebetulan ayahku mendapat jatah ronda malam itu, karena itu ibu tidur sendiri. Aku ceritakan keluhanku pada ibu. Ibu sempat menyuruhku untuk tidur bersamanya tapi aku sudah tak bisa memejamkan mata. Akhirnya ibu menyuruh suami dan kakak untuk menyusul mbah dukun yg rumahnya tak jauh dr rumahku untuk memeriksa apakah tanda2 melahirkan itu sudah ada atau belum. Jangan berpikir negatif dulu tentang mbah dukun ya teman2, mbah dukun itu maksudnya dukun bayi, orang yg bekerja mengurus bayi yg baru lahir, misal mengurut dan memandikan, mengurut ibu setelah melahirkan, dan membantu bidan ketika ada pasien yg melahirkan. Karena itu tak semua orang bisa bekerja sebagai dukun bayi, dia harus lulus test dulu lho kayak ujian PNS aja ya, keren kan? Wkwkwk.. Lebih baek aku sebut simbah aja kali ya, jangan ada embel2 dukun, biar nggak terlalu seram bacanya.

Kata simbah, tanda2 melahirkan itu memang sudah ada, karena itu lebih baik aku segera diantar ke tempat bidan. Suami dan ibu sibuk menyiapkan keperluan yg harus dibawa, seperti baju ganti, pakaian dalam, baju dan popok bayi, perlengkapan mandi,kain. Aku mempersiapkan diri. Cuci muka, gosok gigi, ganti baju dan makan juga untuk stok energi. Rasa mulas masih bisa ku tahan. Jam 3 pagi aku, suami, ayah, ibu, simbah dan kakak meluncur menuju ke tempat bidan. Kebetulan rumah bu bidan tak jauh, hanya butuh beberapa menit untuk sampai ke sana.

Setiba di sana, bu bidan memeriksaku, ternyata sudah pembukaan 7. Aku pun berbaring sambil dipijit2 simbah dan seorang mahasiswi akbid yg sedang PKL membantu bidan. Suami dan ibu terus mendampingiku. Ayah menunggu di luar.
Berbaring terus membuatku tak nyaman dan rasanya makin melilit saja perutku. Akhirnya aku memilih jalan mondar mandir dan kembali duduk kala mulas datang menyerang.
Lalu aku merasakan ingin sekali buang air kecil. Setelah masuk ke kamar mandi, belum sempat pipis eh aku udah mengompol duluan. Tiba2 segelontor air mengucur begitu saja. Ini kali yg namanya ketuban. Aku segera memberitahu bidan. Akhirnya aku berbaring kembali di kamar bersalin dengan didampingi ibu, suami, dan simbah. Ayahku menunggu di luar. Ku rasakan mulas itu semakin menggila dan semakin cepat frekuensinya. Suamiku berkali2 mencium kening dan menggenggam tanganku sembari menguatkanku. Ibuku juga tak henti2nya mengusap keringat yg membanjiri wajahku. Rasanya tak karuan sekali. Aku hanya bisa mengucap istighfar berulang kali, berdoa, mengucap shalawat, ayat2 Al-Quran yg aku hafal, pokoknya aku berusaha untuk merilexkan pikiran dan memohon doa pada Allah, karena hanya Dia yg berkuasa atas segala sesuatu. Jangan fokus ke rasa sakit. Subhanallah ternyata beginilah rasanya hendak bersalin. Aku pun sesekali memandangi wajah ibuku dan menciumnya. Ibu juga menciumiku dan terus mengingatkanku untuk berdzikir. Suamiku juga tak berhenti memberi dukungan. Ketika adzan subuh berkumandang, ibu dan suami bergantian sholat subuh, sementara aku menikmati mulas yg semakin teratur. Sesekali bidan menyuruhku untuk minum teh manis sebagai penyokong tenaga.
Pukul setengah 6 pagi, rasa mulas pun berakhir dan tiba saatnya bagiku memasuki fase 'mengejan' karena pembukaan telah lengkap. Tiap kali ada dorongan mengejan dari dalam, aku pun mengejan. Bu bidan dan ibuku memberi tahu cara mengejan yg benar, yaitu dengan mengatupkan gigi atas dan gigi bawah sambil menundukkan kepala, jangan mendongakkan kepala. Jika kita nyaman dengan posisi miring, tak masalah kita miringkan badan.
Subhanallah, benar2 membutuhkan perjuangan keras dan ekstra kesabaran. Tahap demi tahap aku mengejan, lalu rehat saat napasku habis, tak lupa rilexkan pikiran dengan mengambil napas lalu menghembuskannya berulang kali. Ketika aku mengejan, seolah semua yg ada di ruangan ikut mengejan. Bahkan kata ayahku, beliau juga ikut mengejan dan merasa cemas tak karuan. Aku mencoba menguasai pikiranku dengan sugesti2 positif. Jika orang lain bisa berjuang melahirkan, kenapa aku tidak? Aku pasti bisa seperti mereka. Aku meyakini satu hal, segala sesuatu pasti ada akhirnya. Begitu juga dengan perjuangan mempertaruhkan nyawa ini. Rasa sakit pasti akan berakhir Dan akan berganti dengan kebahagiaan setelah bayi lahir. Aku harus berjuang bagaimanapun caranya. Bahkan aku sempat berkata dalam hati, ya Allah jika kelahiran anakku harus ditebus nyawa aku ikhlas. Waktu itu aku sedang berada di ujung rasa sakit yg semakin menjadi. Tapi sekali lagi, aku terus menyemangati diri sendiri untuk terus maju pantang mundur, aku harus bisa melewati semua ini. Suami membantuku meminum teh manis dengan sedotan berkali2, bahkan dia juga menyuapiku nasi untuk memasok tenaga, walau tak ada hasrat untuk makan, aku tetap menuruti nasehat bu bidan yg menyuruhku mau melahap makanan walau cuma beberapa sendok.
Ajakan mengejan dr dalam semakin gencar mendorongku untuk mengejan sekuat yg aku bisa, sampai napas ini habis, ibarat penyanyi yg berlatih vokal untuk mencapai nada tertinggi. Bu bidan menyuruhku untuk mengambil napas lalu menghembuskannya ketika aku sudah berada di ujung kelelahan. Tiap selesai mengejan, bu bidan selalu berkomentar ''pintar.. Lagi.. Ayo..'', seperti guru TK yg memuji muridnya karena berhasil menyanyikan sebuah lagu. Aku akui, cara yg ditempuh bu bidan cukup efektif mengalirkan energi2 positif dalam otakku.
Ku lihat sekeliling ruangan dan kuamati gerakan jarum jam dinding dengan napas terengah-engah, peluh menggenang, dan aku bertanya2 ''kapankah perjuangan ini akan berakhir?'' Aku tahu benar waktu terus berputar dan moment kelahiran bintang kecilku pasti akan terjadi juga. Aku jadi lebih bersemangat. Ritme mengejanku pun semakin banyak frekuensinya. Suami dan ibu terus menerus memberi semangat.
''ayo mba hes, kepalanya udah keliatan..'', bu bidan mencoba memotivasiku. Aku berusaha sekuat tenaga mengejan dengan kekuatan maksimal yg aku punya. Aku sempat melihat bu bidan dan asistennya mengenakan celemek berbahan plastik dan memakai sarung tangan. Posisiku masih terlentang dan secara refleks kakiku mengangkat tinggi menyandar di tembok. Aku terus berusaha mengejan.
''iya iya pintar.. Ayo neng sebentar lagi dedenya keluar. Ayo de keluar..'', ujar bu bidan. Aku sempat memanggil bintangku ''dede..''. Ayolah bintang kecilku bantu bunda.. ''bismillahirahmanirrahiim..''. Yaapp.. ''oe oe oe.'', suara tangis bayi memekik ke segala sudut. Kuhembuskan napas, antara lemas, entah nyata atau mimpi aku pun terpaku dan hanya bisa berucap ''Alhamdulillah, trimakasih ya Allah''. Suami, ibu, dan simbah sampai menangis mendengar tangis pertama putraku. Suamiku mencium keningku lalu mengecup bibirku dengan berlinang air mata,''alhamdulillah trimakasih ya Allah, makasih banget buat perjuangan kamu istriku..''. Aku tersenyum dan mengusap pipi suamiku ''anak kita lahir yank..''. Ibu juga mencium pipiku,''kamu udah jadi ibu sekarang, ibu punya cucu''.
Tangisan bayiku terdengar begitu nyaring. Saat dikumandangkan adzan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri, my little star sempat menghentikan tangisnya lalu menangis kembali setelah iqamat selesai.
Lega sekali rasanya melihat bayiku terlahir sehat, selamat, tak cacat suatu apapun. Terimakasih ya Allah telah memberiku kekuatan dan kelancaran melewati semua ini. Subhanallah, melahirkan itu memang benar2 menakjubkan.

Bayiku dibawa di ruang perawatan, sementara aku masih harus melewati proses pengeluaran plasenta dan penjahitan. Bayi yg aku lahirkan cukup besar, 4,1 kg dengan panjang 48 cm, tak heran jika aku harus mendapat banyak jahitan.

''bu nggak dibius ya? Kan sakit dijahit'', tanyaku pd bu bidan.
''ah nggak sakit koq..'', jawab bu bidan.
Dengan penuh kehati-hatian bu bidan memulai proses penjahitan. Hmm jangan2 ditambah obras kali ya, haha.. Kunikmati setiap tusukan demi tusukan yg jelas perihnya belum seberapa dibanding perjuanganku tadi waktu melahirkan. Kalau ada yg penasaran gimana rasanya dijahit, yg jelas ceklit ceklit gitu kayak disuntik, jadi jangan terlalu paranoid membayangkan gimana rasanya dijahit.

Setelah melahirkan, aku disarankan untuk tidur agar nanti bisa mandi air hangat biar segar. Tapi aku tak bisa tidur walau lelahnya luar biasa. Mungkin aku terlalu antusias dan bahagia menyandang status baru sebagai seorang ibu. Tak bosan2nya memandangi babyku yg tertidur pulas di box. Lihatlah pipi yg chubby itu, hidung, bibir, dagu, dan matanya seolah seperti fotocopy wajah ayahnya. Aku cari2 di mana bentuk wajahku yg mungkin tercetak di wajahnya, sepertinya wajahnya didominasi oleh wajah ayahnya, xixixi. Kata mahasiswi2 akbid yg siang harinya datang ke tempat bidan, bayiku bayi cantik, jenis kelaminnya laki2 tapi wajahnya kayak bayi perempuan.


Aku sempat susah buang air kecil, apalagi jahitan itu serasa perih sekali.


Akhirnya aku menempuh jalan selang untuk mengeluarkan air seni. Walau agak sakit dan perih, namun lega rasanya.


Indah sekali hari ini. Welcome to the world TARAKA ATAULLAH KHAIRIY (sang bintang karunia dr Allah yang memiliki banyak kebaikan), semoga kamu menjadi anak shaleh dan kamu kan selalu menjadi bintang di hati kami, aamiin

Friday, July 6, 2012

Surat untuk Bintang

Dear my little star,
Sebenarnya bunda belum menemukan nama yg cocok untukmu. Ayahmu pun masih bingung mencari nama yg indah untukmu. Tapi dalam surat ini, bunda ingin memanggilmu 'Bintang'. Entah kenapa satu kata itu yg terlintas dalam benakku. Karena memang kamu seperti bintang. Tak selalu menampakkan diri di langit, tapi dia ada.. Dan dia slalu bersinar.. Tak seperti bulan yg memantulkan cahaya matahari. Bintang itu punya sinar. Seperti kamu.. Kamu ibarat sinar yg terangi perjalanan rumah tangga kami. Walau kami belum pernah melihatmu benar2 nyata di depan mata, tapi kehadiranmu di rahimku telah membuncahkah rasa sayang yg teramat dalam.


Bintang, di awal kehadiranmu, bunda belum bisa merasakan adanya dirimu. Belum tahu apa rahim ini sudah ada segumpal daging yg menempel di dinding rahim atau belum.. Yang bunda ingat dalam ketidaksadaran bunda akan kehadiranmu, bunda masih sanggup berjalan jauh sampai peluh bercucuran dan langkah kaki serasa berat. Bahkan bunda tak peduli dengan kelelahan yg menguras begitu banyak energi. Saat itu, bunda tak mau membiarkan ayahmu berjalan seorang diri tuk menjajakan pakaian dari satu kampung ke kampung lain. Mungkin bisa dibilang saat itu adalah salah satu fase terberat yg pernah kami jalani. Ayahmu di-phk dari pekerjaannya, sementara surat lamaran bunda juga belum ada satupun yg mendapat panggilan. Bunda dan ayah berjalan berdua, terkadang menyusuri sawah, namun semangat tak meluntur meski terik sang surya senantiasa membakar kulit kami. Ayahmu bagai pejuang.. Dia tak mengeluh sedikitpun walau beban berat menghimpit bahunya. Kamu tahu Bintang.. berjualan seperti itu adalah pengalaman pertama bunda dan ayahmu.. Orang terkadang hanya mengacak-acak baju2 yg kami jual tanpa membelinya, bahkan yg lebih ekstrim ada juga yg mencela baju2 yg kami jual berkualitas rendah. Namun banyak juga yg berbaik hati mau berbagi rizki dgn kami. Rasa senang bukan kepalang menelusup dalam sanubari tatkala melihat barang dagangan banyak yg terbeli, ternyata beginilah rasanya berjualan.. Namun terkadang baju yg kami jual tak ada satupun yg laku. Tapi itu tak membuat kami berkecil hati.
Allah memang maha Penyayang Bintangku, ayahmu bekerja kembali setelah 2 atau 3 minggu berjualan keliling bersama bunda. Bunda pun kembali aktif menjalankan rutinitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga. Memasak, menyiapkan sarapan dan bekal makan siang untuk ayahmu, mencuci piring dan baju, dan menunggu ayahmu pulang kerja. Kamu tahu Bintang, ayahmu selalu mengkhawatirkan bunda jika sedikit saja bunda terlihat kurus. Ayahmu seringkali memperhatikan lekukan tulang belikat di bawah leher atau pergelangan tangan bunda yg kata ayah terlihat menonjol. Dia merasa bersalah karena bunda bertambah kurus. Padahal bunda slalu makan teratur dan cukup nutrisi. Karena itu ayahmu sering kali mengingatkan bunda untuk banyak istirahat, jangan sampai kecapaian mengerjakan pekerjaan rumahtangga. Hingga suatu hari ayahmu memeluk perut bunda ketika bunda memasak di dapur, saat itulah ayahmu menyadari perut bunda tampak lebih buncit dari biasanya. Ayahmu pun meledek bunda, 'perutmu koq gedhe ya yank? Tangannya kurus tapi perutnya gedhe..' Bunda pun mengamati perut bunda. Ya memang perut bunda terlihat lebih berisi. Sampai akhirnya bunda merasa pusing, tubuh serasa lemas, dan kondisi badan layaknya orang yg masuk angin. Makanan pun kerap kali tak bisa masuk ke dalam lambung. Bunda hanya ingin makan yg segar2 seperti buah atau es. Apalagi perut bunda terasa mulas seperti hendak datang bulan. Tapi lewat dari tanggal, tamu bulanan itu belum datang juga. Ayahmu pun sudah mulai curiga adanya tanda2 kehadiranmu dalam rahim bunda. Kakak ipar juga udah bertanya apakah bunda terlambat bulan atau tidak.. Bunda berpikir, apa memang kamu telah hadir dalam rahim bunda? Puncaknya petang itu setelah selesai sholat Maghrib bunda muntah2 banyak sekali. Seolah semua makanan yg mengisi lambung keluar semua tanpa sisa. Ayah pun segera mengantar bunda periksa ke bidan yg rumahnya tak begitu jauh dari tempat tinggal kami.

Sesampai di sana, bunda menceritakan semua keluhan yg bunda rasakan. Bu bidan menyuruh bunda test urine untuk memeriksa apakah kamu benar2 sudah bersemayam di rahim atau belum. Binar bahagia terpancar di hati bunda dan ayah kala dua garis merah terlihat begitu nyata. Tanpa bunda sadari, ternyata kamu telah hadir sejak satu setengah bulan yg lalu. Bunda sangat bersyukur, walau dulu bunda sempat berjalan jauh sampai kelelahan, tapi itu semua tak berpengaruh terhadap kondisimu. Kata bidan, kondisimu baik dan sehat. Bu bidan memberi bunda sebuah buku yg berisi info2 seputar kehamilan dan persalinan dimana buku itu harus bunda bawa setiap kali bunda datang ke sana untuk periksa rutin. Selain itu bu bidan memberi obat anti mual, asam folat, dan kapsul penambah darah.
Bintang, malam itu bunda dan ayah merasa sangat bersyukur. Kamu adalah karunia Allah yg harus bunda jaga. Itulah tahapan awal bunda menjadi seorang calon ibu.

Bintang, ketika mendengar kabar bahwa kamu telah tinggal di rahim bunda selama satu setengah bulan ini, kakek nenekmu pun merasa bersyukur. Kamu adalah calon cucu pertama mereka. Karena dua kakak bunda belum ada yg menikah, bunda lah satu2nya anak kakek dan nenek yg sudah berumahtangga. Ayahmu pun makin meningkatkan perhatiannya padamu dan pada bunda. Dia senang sekali mengelus dan mencium perut bunda. Mencoba mengajakmu bicara meski kamu belum bisa mendengar suara. Kami anggap kamu mengerti apa yg kami ucapkan.


Bintang, masa2 trimester pertama bukan hal mudah yg harus bunda lewati. Muntah dan mual selalu datang sepanjang hari, entah pagi, siang, sore atau malam. Bahkan bunda pernah muntah 6x dalam sehari. Jika sudah muntah seperti itu, bunda sering merasa lemas. Setidaknya jari2 ajaib ayahmu yg mengusap-usap rambut dan memijit kepala bunda agak meringankan kepeningan kepala ini. Ayahmu juga kerap menyeduh teh hangat atau wedang jahe untuk bunda agar bunda merasa enakan dan tidak mual lagi. Bukan hanya itu Bintangku, di mata bunda ayahmu adalah lelaki terhebat yg tidak hanya rajin bekerja mencari nafkah, dia juga tak keberatan memasak nasi goreng untuk bunda, mencuci pakaian dan piring kala bunda merasa pusing dan lemas. Ayahmu juga sering membaca ayat2 Al Quran di sebelah bunda. Kamu masih ingat? Kita berdua tenggelam dalam lantunan ayat suci yg dilantunkan oleh ayahmu. Kamu pun bunda biasakan mendengar suara bunda yg jelek.. Mencoba membacakan ayat2 suci untukmu agar rasa cintamu pada agama telah tumbuh sejak kamu berada dalam kandungan..
Bintang, bunda tak akan mampu nikmati setiap perjuangan ini tanpa dukungan dan rasa cinta yg teramat besar dari ayahmu. Karena itu, berterimakasihlah pada ayahmu Bintang.. Karena dia juga ikut berjuang untukmu. Bunda tak hanya berjuang sendiri. Hanya saja, rahim itu hanya dimiliki bunda.. Jika ayahmu memilikinya, bunda yakin ayah tak keberatan menanggung beban tuk menampungmu sampai kamu terlahir ke dunia..

Bintang, masa2 trimester pertama berat badan bunda sempat menyusut. Bunda khawatir hal itu kan berakibat buruk padamu. Tapi alhamdulillah kamu slalu sehat dan detak jantungmu pun mulai samar terdengar.
Saat memasuki trimester kedua, berat badan bunda kembali stabil dan naik setelah memasuki bulan ke-6. Kamu tahu Bintang.. pada bulan ke-4 dan ke-5 bunda masih suka merasa mual dan muntah namun tak sesering pada trimester pertama. Perut bunda makin membuncit, kamu pun semakin tumbuh besar. Di usia kandungan bunda yg ke-6 bulan, kamu sudah bisa mengontrol gerakan tubuhmu hingga bunda bisa merasakannya. Ayahmu pun bisa merasakan kamu bergerak melalui elusan tangannya. Begitu amazing rasanya menikmati setiap gerakan yg kamu buat.. Pada bulan ini juga, kondisi bunda sempat drop sampai jatuh sakit 2x dalam waktu satu bulan. Cuaca dingin membuat tubuh bunda diserang demam, kedinginan yg menggigil, suhu badan tinggi, disertai batuk dan pilek yg tak kunjung sembuh. Saat batuk pun, bunda sering merasa sakit di bagian pinggang atau bawah diafragma. Perut serasa tertekan. Bunda khawatir kondisimu akan ngedrop jg karena pengaruh buruknya kondisi kesehatan bunda. Ayahmu sampai begadang semalaman menjaga bunda, bahkan tak masuk kerja juga. Tidak ada yg menjaga bunda selain ayah. Dengan sangat telaten ayahmu mengompres dahi bunda, menyeka tubuh bunda dengan air hangat, menyelimuti bunda, mengeloni bunda sampai bunda tertidur, padahal waktu itu bunda tak bisa tidur nyenyak karena batuk dan pilek yg begitu menyiksa. Bunda sampai berobat ke 3 bidan Bintangku.. Namun kondisi bunda belum juga membaik. Hingga persediaan uang pun menipis. Dan untuk sementara waktu kamu tidak lagi mengkonsumsi susu ibu hamil, bunda hanya bisa memberimu susu biasa. Maafkan bunda sayang, bunda tak selalu bisa memberi yg terbaik untukmu. Beruntunglah ayah dan bunda memiliki sahabat yg kami kenal dari dunia maya. Dia seorang bidan dan dia begitu peduli dengan kondisi kesehatan bunda yg belum juga membaik. Akhirnya dia mengirim paket berisi obat-obatan yg berkualitas bagus untuk bunda. Alhamdulillah setelah meminum obat2 tersebut, kondisi kesehatan bunda pun membaik. Batuk yg menyiksa ini akhirnya pergi juga. Bunda dan ayah hanya bisa mengucap terimakasih karena Allah berkenan memberi kesembuhan untuk bunda.
Hari2 pun kembali ceria. Ayahmu tak lagi diam2 menangis karena tak tega melihat bunda sakit. Kamu merasa senang juga kan? Karena kamu tak lagi merasa tegang dan tertekan ketika bunda terbatuk2.

Bintang, tak terasa sekarang ini bunda telah melewati masa trimester akhir. Bunda harus tinggal di rumah kakek dan nenekmu utk persiapan persalinan nanti. Sementara ayahmu masih berada di sana tuk membanting tulang demi kamu, demi kita. Perut bunda terlihat begitu besar. Bunda bisa melihat organ2 tubuhmu telah terbentuk semakin lengkap dalam layar monitor. Gerakanmu pun semakin lincah. Menendang-nendang perut bunda seakan kamu sudah ingin cepat2 keluar dari sini. Rahim bunda sudah tak nyaman lagi ya sayang? Sabar Bintang, insyaAllah sebentar lagi kamu bisa melihat terangnya dunia di luar sana. Bersabarlah seperti bunda yg berusaha bersabar menopang beratnya perut bunda. Kita sama2 berdoa ya semoga Allah memberi bunda kemudahan untuk melahirkanmu.


Bintang satu hal yg kamu tahu, bunda dan ayahmu hanya orang biasa, bukan pribadi istimewa dgn berjuta harta, kecerdasan atau kedudukan. Tapi di hati kami selalu ada cinta yg tulus, tanpa meminta syarat apapun tuk bisa mencintaimu sedalam ini.. Kami hanya bisa menguntai doa tiada henti untuk keselamatan dan kesehatanmu. Kami memang orang biasa sayang.. Tapi kami tak akan berhenti tuk berusaha melakukan yg terbaik untuk masa depanmu.


Kami menyayangimu Bintang...